
Sulawesi Tenggara sedang berada pada persimpangan penting pembangunan ekonomi. Di satu sisi, sektor pertambangan dan industri pengolahan berbasis nikel telah menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Di sisi lain, ketergantungan yang terlalu besar pada sumber daya alam yang tidak terbarukan menyimpan pertanyaan besar: seperti apa wajah ekonomi Sulawesi Tenggara ketika komoditas tambang tidak lagi menjadi penopang utama?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menegasikan peran pertambangan. Justru sebaliknya, momentum pertumbuhan dari sektor pertambangan perlu dimanfaatkan untuk membangun fondasi ekonomi baru yang lebih beragam, inklusif, dan berkelanjutan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi, mengingatkan bahwa sektor pertambangan memiliki batas waktu.
Karena itu, pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM perlu dikembangkan sebagai sektor yang dapat menyerap tenaga kerja lokal sekaligus memiliki keberlanjutan jangka panjang.
Sultra memiliki modal yang kuat untuk itu, mulai dari Wakatobi, Benteng Keraton Buton, kekayaan budaya, kuliner, hingga kain tenun lokal.
Pesan tersebut seharusnya dibaca bukan sebagai ajakan memilih antara tambang atau pariwisata. Pilihan itu terlalu sederhana. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjadikan pertambangan sebagai jembatan menuju struktur ekonomi yang lebih beragam.
Mengurai Pertumbuhan Ekonomi Sultra
Ekonomi Sultra memang menunjukkan performa yang mengesankan. Pada triwulan II 2026, ekonomi Sultra tumbuh 6,19 persen secara tahunan, sementara secara kumulatif semester I tumbuh 6,21 persen.
Namun, struktur ekonomi masih memperlihatkan kuatnya peran sektor berbasis sumber daya alam. Pertambangan dan penggalian menyumbang sekitar 20,26 persen PDRB, sementara pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi kontributor terbesar dengan 23,15 persen.
Angka pertumbuhan tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, ukuran keberhasilan pembangunan tidak semata-mata terletak pada seberapa tinggi ekonomi tumbuh pada hari ini. Yang tidak kalah penting adalah seberapa kuat ekonomi tersebut menghadapi perubahan harga komoditas, siklus investasi, maupun berkurangnya cadangan sumber daya alam pada masa mendatang.
Menariknya, terdapat sinyal positif dari sektor non-tambang. Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum pada triwulan II 2026 tumbuh 17,22 persen secara tahunan—bahkan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi.
Ini menunjukkan bahwa ketika mobilitas, konsumsi, pariwisata, dan aktivitas ekonomi masyarakat berkembang, sektor jasa memiliki ruang ekspansi yang besar.
Artinya, diversifikasi ekonomi Sultra bukan gagasan yang mengawang-awang.
Benihnya sudah ada. Pekerjaan rumahnya adalah membuat benih tersebut tumbuh menjadi ekosistem ekonomi yang kuat.
Menciptakan Ekosistem Pariwisata Unggul
Masalah klasik pengembangan pariwisata dan UMKM bukan semata-mata ketiadaan potensi. Sultra justru memiliki terlalu banyak potensi. Persoalannya adalah bagaimana mengubah potensi menjadi transaksi ekonomi yang berulang.
Destinasi wisata yang indah tidak otomatis menciptakan kesejahteraan apabila wisatawan hanya datang, mengambil foto, lalu pergi tanpa terhubung dengan produk dan pelaku ekonomi lokal.
Begitu pula UMKM yang menghasilkan produk berkualitas belum tentu berkembang apabila tidak memiliki akses pasar, pembiayaan, standardisasi, kemasan, logistik, dan pemasaran yang memadai.
Karena itu, pengembangan pariwisata harus ditempatkan dalam satu rantai nilai dengan UMKM. Wisatawan yang datang ke Wakatobi, misalnya, tidak cukup hanya menikmati destinasi.
Mereka perlu memiliki alasan untuk membeli produk lokal, mencicipi kuliner daerah, menggunakan jasa masyarakat setempat, hingga membawa pulang produk ekonomi kreatif sebagai oleh-oleh.
Di sinilah digitalisasi dapat menjadi pengungkit. Program QRIS dan penguatan ekosistem digital UMKM yang dilakukan BI Sultra menunjukkan bahwa transformasi ekonomi lokal dapat berjalan beriringan dengan digitalisasi sistem pembayaran.
Kegiatan QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026, misalnya, menghubungkan kuliner, budaya, pariwisata, UMKM, dan transaksi digital di Kendari, Baubau, serta Muna.
Namun, digitalisasi pembayaran hanyalah salah satu bagian.
Tantangan berikutnya adalah membawa UMKM dari sekadar survive menjadi scale-up. Produk lokal harus memiliki kualitas konsisten, desain menarik, kapasitas produksi memadai, legalitas, sertifikasi, serta kemampuan memenuhi permintaan pasar yang lebih besar.
Karena itu, sinergi pemerintah daerah, BI, perbankan, pelaku usaha, komunitas, perguruan tinggi, dan media menjadi penting. Pengembangan UMKM tidak boleh berhenti pada pelatihan dan pameran. Harus ada kesinambungan dari produksi, pembiayaan, kurasi, pemasaran, distribusi hingga akses pasar nasional dan internasional.
Pada akhirnya, diversifikasi ekonomi Sultra bukan proyek untuk menunggu tambang habis. Justru harus dimulai ketika tambang masih memberikan ruang fiskal, investasi, dan pertumbuhan.
Kita tidak perlu takut terhadap ekonomi tambang. Yang perlu dihindari adalah ketergantungan permanen terhadap tambang.
Sultra memiliki waktu untuk mempersiapkan masa depan. Wakatobi tidak akan habis, budaya Buton tidak akan berhenti bernilai, tenun tidak akan kehilangan makna, dan kreativitas masyarakat tidak mengenal batas cadangan mineral.
Maka, pekerjaan terbesar kita bukan memilih antara tambang dan ekonomi non-tambang. Pekerjaan kita adalah memastikan kekayaan alam hari ini mampu melahirkan kekayaan ekonomi baru untuk generasi berikutnya.
Jangan menunggu tambang habis untuk mulai membangun ekonomi baru. Justru ketika tambang sedang berjaya, saat itulah fondasi ekonomi Sultra yang lebih beragam harus dibangun.**
Tidak ada komentar